my dreams,story and dailychat

Just another WordPress.com weblog

*belajar motret* October 2, 2011

Filed under: Uncategorized — milasavitri @ 10:44 am

belakangan ini lagi demen banget jepret2…dan entah kenapa lagi suka banget ama b/w photos…
well belom dan masih jauh banget dari jago…tapi pengen share aja deh disini..dimana lagi share kalo nggak di blog kita sendiri ya gak hihihi….
ok, enjoy the photos then…komen+saran+celaan+pujian ditampung lho hihihi…. =)

stepping

watersplashes

pucca

hello kitty

newborn babyboy

mini bianglala

reflection

new haircut

swirling

 

Piknik Day #2 July 10, 2011

Filed under: Support Children Playground — milasavitri @ 5:02 pm

Ketemu lagi di Piknik Day-nya komunitas Support Children Playground!!! =)
Piknik kali ini, kita pengen mencoba sesuatu yang agak beda dari sebelumnya…secara lokasi lebih jauh, jenis taman yang berbeda dari Piknik Day #1 ( baca http://milasnotes.wordpress.com/2011/07/07/piknik-day-1/ ), juga cara pencapaian ke lokasi piknik yg berbeda… setelah berembuk di grup fb, pilihan jatuh pada Taman Kartini di Baros Cimahi. Selain karena saya sering melewatinya -jadi nggak asing2 banget-, taman Kartini tampak rindang dan seringkali cukup ramai dikunjungi orang, terutama anak2 sekolah dari SD Kartini yang memang berada di belakang taman tersebut.

So, di sebuah sabtu pagi yang cerah, kami berkumpul di Stasiun Bandung…YUP! kami akan menuju Cimahi naik kereta api lokal =)) Seperti yang sudah sempat dibahas di grup, ternyata naik kereta api ini cukup membuat anak2 semangat dan nggak sabar untuk ikut piknik kali ini…jadi, setelah peserta confirmed+beberapa tambahan berkumpul sampai wkt yg ditentukan, kita segera membeli tiket kereta api baraya geulis yg menuju arah padalarang (untuk lihat jadwalnya klik http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Baraya_Geulis)…

lucky US!! ternyata baraya geulis bener2 secantik namanya!! sudahlah bersiiih, sepiii, nyamaan pula…anak dan para ortu hepi banget naik kereta lokal ini…perjalanan jadi tidak terasa dan tahu2 kami sudah sampai di stasiun cimahi =)

sampai di stasiun, peserta piknik dikasih pilihan, mau jalan kaki atau naik angkot menuju taman Kartini, krn sebenarnya jaraknya nggak terlalu jauh, kira2 200m…cuma kasihan aja kl ada anak2 yg belum kuat jalan jauh, mana ada ibu hamil lagi hehe..tp ternyata semangat peserta piknik tinggi bangeet, semua pada milih jalan kaki…diantara terik matahari, keringat dan silau terdengar celotehan anak2 ..gak lama kemudian, sampailah kami di taman Kartini.

Taman Kartini cukup luas, ditandai dengan adanya patung setengah dada Kartini di gerbangnya (yang langsung jadi tempat dokumentasi pertama kami2 hehe).Luasnya mungkin sekitar 1000m2, di tengahnya terdapat kolam yang cukup besar dan dimana2 ada pohon besar yang tampak cukup tua dan super rindang. Kami langsung memilih spot untuk menggelar tikar+cemilan…Ibu2 langsung mengeluarkan bekal masing-masing, anak-anak mengeluarkan alat permainan dan langsung beraksi, ayah2 ada yang bermain dengan anak2 ada juga yang asik memotret2… sebagian pun ada yang berjalan2 mengelilingi taman… Benar saja, taman cukup ramai dengan anak2 yg sdg istirahat sekolah, tapi selain itu banyak pengunjung umum lain yang sekedar mengobrol,jajan bahkan memancing di tepi kolam…woow…taman ini benar2 berfungsi sebagaimana mestinya, berhasil bangeet!!

Aktivitas anak2 masih nggak jauh dari permainan outdoor spt bulutangkis, petak umpet,lari2 dan berkeliling kolam…lucunya ada yang anteeng merhatiin flora fauna di bawah pohon rindang dan nguprek2in tanah…sebenarnya ada fasilitas bermain di salah satu sisi taman, tapi saat itu banyak anak2 SD yang menggunakannya..tapi itu tidak mengurangi keriaan teman2 piknik kita kok =)

Sampai akhirnya hari sudah semakin terik, anak2 sudah agak lelah dan perut sudah kenyang terisi cemilan, kami putuskan untuk kembali ke bandung. Dengan berjalan kaki lagi, kami menuju stasiun cimahi dan mencari jadwal kereta terdekat. Sayangnya jadwal baraya geulis masih lama, jadi diputuskan kami akan naik kereta lokal ekonomi. Sayangnya lagi, jadwalnya *sigh* molor…jadi kami musti menunggu agak lama…tapii untungnya lagi, anak2 sama sekali nggak rewel, mereka malah asik mengeksplorasi stasiun dan asik bermain dan bercanda…

Sampai akhirnya kereta lokal datang, kami pun naik dan *dengan sudah diduga sebelumnya* harus berdesak2an dengan berbagai jenis penumpang yang memadatinya… sebenarnya dalam hati kecil saya agak merasa nggak tega dengan ketidaknhyamanan yang musti dirasakan anak2, tapi seorang kawan berbisik pada saya,” ini baguus, justru dengan naik kereta lokal ini kita sambil mengenalkan pada anak2, ada situasi enak, tapi ada juga situasi kurang nyaman yang musti kita lalui…ini kan sambil melatih kepekaan sosial mereka juga”…waah saya jadi agak lega mendengar support kawan tadi..semoga saja semua juga merasakan hal yang sama yaa…

Peserta turun di stasiun yang berbeda sesuai dengan jarak terdekat dari rumah masing2…ada yang turun di stasiun bandung, ada yang turun di stasiun kiaracondong…kamipun saling berpamitan dari jarak jauh (karena duduknya terpisah2) lewat kode2 lambaian tangan…walaupun lelah, tapi kami senang…sampai ketemu di Piknik Day #3!! =))

 

Piknik Day #1 July 7, 2011

Filed under: Uncategorized — milasavitri @ 5:00 pm

Yaaay ketemu lagi…udah lama nih nggak nulis…. sebenernya banyaak yang pengen ditulis, terutama sejak punya komunitas Support Children Playground…
mau tahu lebih banyak tentang Support Children Playground? ayoo join di grup fb @Support Children Playground, atau follow twitternya @childrenpground…
Intinya, komunitas ini berawal dari kebutuhan para pendirinya -yang kebetulan terdiri dari emak2 beranak TK dan sebagian besar arsitek- akan tempat bermain untuk anak-anak, yang BUKAN mall -yang notabene mahal-tertutup-nggak alami-dan terbatas… bukannya kita anti mall lho, mall tetep perlu untuk refreshing, tapi bukan satu2nya tempat untuk bersenang-senang kaan, dan lagi mall juga ‘berbahaya’ dalam hal menumbuhkan sifat konsumtif kita yang tentu bisa nggak sehat untuk kantong kita hehe…

sedangkan di taman atau ruang terbuka, kita pun bisa bersenang-senang dengan anak-anak…mereka bisa bermain berbagai permainan outdoor, bergerak lebih banyak, menghirup udara segar, mengenal dan mengamati alam lebih dekat, berbagi permainan dengan teman lain, bahkan bisa kenal dengan permainan2 tradisional yang mungkin saja sudah makin jarang ditemui. Berbekal keinginan2 awal seperti itu, kami beberapa bunda pun mulai berencana untuk mendatangi taman atau ruang2 terbuka publik yang ada di kota Bandung untuk dijadikan tempat bermain anak-anak dan orangtua…

Awalnya, kami mencoba bikin list taman2 yang ada di bandung, lalu mulai membuat kriteria taman yang bisa didatangi…yang jelas taman ini sebaiknya aman untuk anak2, di lokasi yang mudah dijangkau dan tidak perlu terlalu besar sebagai tujuan awal…lalu supaya asik, kita kasih nama aktivitas mendatangi taman ini dengan judul ‘Piknik Day’…gak ada maksud apa2 sih, cuma sepertinya kata ‘Piknik’ udah agak lama tidak terdengar, jadi sekalian kita bernostalgia sambil bersenang2 =)

Soo, pilihan pertama untuk Piknik Day #1 kita adalah taman Wira Angun2. Kenapa? karena lokasinya di tengah perumahan yang tampaknya aman, tempatnya juga mudah dijangkau (rata2 kenal lokasinya) dan banyak pohonnya aka rimbun. Harinya? dipilihlah hari Sabtu, dengan pertimbangan rata2 anak2 libur di hari sabtu dan hari sabtu masih peralihan untuk pilihan beraktivitas, dimana hari minggu biasanya orang punya rencana untuk beraktivitas dengan keluarga saja.
Jadi, undangan mulai disebar di grup, hanya dengan syarat membawa alat permainan outdoor dan cemilan masing2… dan kita pun berangkat tanpa banyak ekspektasi…whatever will be will be, niat kita hanyalah ingin bersenang2 di ruang terbuka dan bermain bersama anak2..

Tapi, ternyata responnya cukup baik, pagi itu yang datang 7 keluarga, anak2 berlari2-bermain bulutangkis-menendang dan mengejar bola-memungut dan mengumpulkan buah cemara-memandang awal yang bergerak, ibu2 ngemil dan bercengkerama, ayah2 mengobrol dan memotret…wooohooo…menyenangkan!!


mulai maiiin =)


ada yang baru kenal, tapi main bareng tuh ;)


emak2 pun mengemil dan mengubrul =D


buah cemara hasil perburuan krucils

</a
seriuus yaa, liat apa siih?


tuuh kan pada gogoleran gini ngapain siih?


oooh ternyata pada liat langit+awan yang bergerak ;)


dua sahabat


hehehee…

Kesimpulannya : taman Wira Angun2 sebagai taman di kawasan perumahan sudah cukup nyaman dan aman untuk anak2…seluruh taman dilapisi rumput yang nyaman untuk bermain dan sudah banyak pohon rindang yang semakin membuatnya sejuk…jalan yang melingkari taman juga tidak terlalu ramai oleh kendaraan, jadi cukup aman untuk keselamatan anak2…pasti taman WIra Angun2 akan semakin menyenagkan kalau ada fasilitas bermain untuk anak atau kolam pasirnya…tapi begini juga udah menyenangkan kook…kapan2 main lagi aah ksini =)


yeaaay…piknik day #1 sangat menyenangkan…sampai ketemu di piknik day#2 yaaa =)

 

SURPRISE! Open space di dekat mesjid jl mangga :) May 4, 2010

Filed under: Uncategorized — milasavitri @ 4:40 am

Hari minggu sore yang lalu, kami sekeluarga mampir di mesjid Miftahul Hidayah untuk sholat sehabis berjalan-jalan. Mesjid ini ada di tengah2 lingkungan perumahan di sekitar jl. Mangga, Bandung. Sudah cukup lama kami tidak kesana karena lokasinya cukup jauh dari rumah kami yang notabene ada di bandung coret. Daaan, ternyata perubahannya sangat menggembirakan! Halamannya yang semula hanya berupa hamparan rumput (saja), ternyata kemarin sudah berubah. Lingkungannya sudah lebih didesain, dilengkapi dengan fasilitas CPG (children playground), lapangan basket, bench, dinding pembatas/buffer antara ruang wudhu dengan taman, serta tata hijau yang lebih atraktif. Saya yang semula tidak berniat turun (karena sedang berhalangan) jadinya malah turun karena penasaran dan asyik menjepret2.
Waaw seandainya semua neighborhood open space seperti ini yaa, sepertinya warganya bakal betah beraktifitas dan bersosialisasi di situ deeeh…

Area hardcover untuk bermain basket, dilengkapi dengan ring :)

pavement


children playground yang menyenangkan

bangku taman


hijau-hijau yang bikin seger


salah satu sudut ruang terbuka

well, satu kata : salut! semoga bisa diikuti oleh neighborhood open space lainnya di bandung…^_^

 

Children Friendly Open Space April 27, 2010

Filed under: child friendly city,interesting issue — milasavitri @ 4:06 am

Ruang Terbuka Ramah Anak

Mengapa ruang publik penting bagi anak-anak?

Menurut artikel Involving Young People in the Design and Care of Urban Spaces (http://www.cabe.org.uk/files/what-would-you-do-with-this-space.pdf) dari CABE 2004 (Commission for Architecture and the Built Environment), anak-anak (dan remaja) memerlukan ruang yang bukan di rumah mereka dimana mereka bisa bersosialisasi dan menghabiskan waktu bersama teman sebaya mereka. Ruang publik punya peran yang penting, dimana ruang publik bisa diakses oleh siapa saja dalam komunitas sekitarnya. Interaksi-interaksi yang terjadi di ruang publik menyediakan edukasi yang kaya bagi anak2 tentang dunia di sekitar mereka dan orang-orang yang berada di sekitar mereka.

Taman-taman, pojok jalan, playgrounds, lapangan sepakbola, trotoar, hamparan berumput dan berpohon bisa merupakan tempat bagi anak-anak untuk bermain dan bertemu, untuk menentukan dunia merdeka mereka dari orangtuanya dan melakukan eksplorasi di alam serta lingkungan binaan sekitar mereka.

Akses menuju ruang publik yang baik dapat membantu anak2 untuk tetap sehat dan menghindari masalah obesitas karena mereka jadi banyak bergerak dan menghirup udara segar.

Tidak hanya taman dan playground yang penting. Anak2 juga perlu untuk menggunakan seluruh ruang publik dengan perasaan aman dan bebas takut. Bagi banyak anak, terutama yang mempunyai sedikit pengalaman bepergian/ berlibur yang agak jauh, lingkungan lokal di sekitar mereka adalah tempat dimana mereka mencari pengalaman dunia luar.

Area bermain

Dalam artikel Principles of Child Friendly Housing, Portland Courtyard Housing 2007, (http://www.courtyardhousing.org/downloads/ChildFriendlyHousing.pdf) disebutkan bahwa anak-anak perlu diberi ruang untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka. Desain area luar dan dalam harus memenuhi kapasitas yang bisa mendukung mereka bermain.

Pelarangan2 pada aktivitas anak-anak tidak akan kondusif bagi perkembangan yang sehat. Melalui bermainlah anak-anak memperoleh keterampilan sosial, kognisi dan fisik. Pelarangan-pelarangan di area bermain juga bisa menghambat proses perkembangan mereka. Beberapa masukan tentang area bermain antara lain :

- area outdoor sebaiknya berada di sekitar rumah, khususnya dekat dengan pintu, sangat penting untuk anak-anak yang masih kecil

- menciptakan buffer zone/ area penyangga/ perantara sebagai area transisi antara privat – semi publik. Ruang transisi seperti ini memungkinkan anak-anak secara bertahap mencapai perasaan merdeka dari rumah mereka.

- Menyediakan ruang yang cukup untuk fungsi ganda pada jalur jalan, yaitu untuk sirkulasi dan tempat bermain anak. Anak-anak diatas 6 tahun sering bermain sepeda, roller skate dan berlari pada jalur pejalan kaki (pavement)

- Lokasi area bermain seharusnya bisa mengakomodir berbagai jenis permainan, termasuk :
1. gross motor play : adanya perlengkapan / sarana yang menawarkan kesempatan untuk aktivitas fisik, seperti meluncur, memanjat, meraih dan menyeberang.

2. quiet play : mereka perlu waktu tenang untuk menggali hal-hal pada lingkungan belajar mereka, seperti buku dan puzzle. Permainan tenang ini menyediakan kesempatan bagi mereka untuk berpikir dan belajar reasoning/ pemahaman, contohnya : meronce, menyusun puzzle, membaca, melihat gambar2, dll

3. Dramatic play: bermain peran juga perlu untuk membangun keterampilan sosial dan verbal mereka. Zona ini memerlukan latar/ backdrop yang mendukung dan memfasilitasi mereka untuk meniru peran2 orang dewasa dengan bermain rumah2an, sekolah, theatre dan peran2 lainnya.


- Rencanakan aktivitas outdoor yang membantu menstimulasi perkembangan anak seperti : permainan air dan pasir, konstruksi, bercocok tanam, arts and crafts, memanjat, berayun, naik mainan beroda dll.



Shared streets/ woonerf

Salah satu konsep yang menguntungkan bagi anak di lingkuingan tempat tinggal mereka adalah tersedianya shared street/woonerf. Shared streeet menjadi tempat yang cocok untuk interaksi para pejalankaki, dimana orang-orang bisa berhenti sejenak dan bersosialisasi di jalan. Hal ini juga menawarkan tempat pilihan untuk anak2 bermain dan meningkatkan kontak sosial di lingkungan dekat rumah.


Dutch woonerf

British woonerf
(gambar diambil dari http://www.courtyardhousing.org/images_shared.html)

 

oldies cimahi April 14, 2010

Filed under: cimahi,heritage,interesting issue,konservasi — milasavitri @ 5:36 am

Hanya ingin berbagi pengalaman waktu saya bersama teman2 di tim proyek penataan alun2 cimahi survey di sana…beberapa tahun yang lalu…

“…Padahal di sekitar situ kan bangunannya udah jaman sekarang semua, eeeh tapi dooong, ternyata di jalan samping alun2nya di seberang Ramayana (which is soo bulky) ada bangunan bergaya art deco yang bernama Rio…(foto bioskop rio), waah langsung gatel deh mo motret2 dia…

Perjalanan dilanjut lagi ke arah utara…waw, jalannya mungkin cuma selebar 5 meter, tapi trafficnya doonk, padat dan ruamee…ya angkot, motor, mobil yang parkir on street belum lagi anak2 SD yang bersliweran…memang di situ ada SD sih, udah gitu dekat pasar lagi…seruuu….SD nya juga lucu sih walopun bukan bangunan tua banget…

Begitu mentok dari SD dan belok kiri, wuiiih ada lagi 1 bangunan yang tampak kumuh, tapiiii aku kok suka langgamnya ya…jadi jepret2 banyak deh…(foto alun_1,2 row)


Trus, menurut si pemberi proyek, ada 1 bangunan ‘bandel’ di ujung timur laut alun2, konon dia gak mau dibebasin…ternyata doonk, itu bangunan sudut yang unik dengan bentuk melengkung yang berfungsi sebagai toko buku…(sedih deh, sepi banget di antara keramaian di luarnya) ooo ini tho…pantesan gak mau dibebasin, abis keren kok =) (foto toko buku)

Wah, senangnya, gak nyangka bisa nemu ‘harta karun’ bangunan konservasi di kawasan cimahi yang selama ini terlihat yaa gitu deh…;D “

 

urban lighting @ a glance April 6, 2010

Filed under: urban lighting — milasavitri @ 1:57 am

It’s been a while since this topic became one of my special notification, it had been my thesis on my postgraduate study, only I took it in interior design context. Since I have been working at urban design consultant, so I bring it on an urban context, with all the different constraints and obstacles. So, before entering the main subjects, urban lighting, first of all we are going to define the basic subject –light- and the features that comes around it.

Lighting :
- The state of being lighted, illumination
- The method or equipment used to provide artificial illumination
- The act or process of igniting

Objectives
- To give light to help human and another living creature to see the environment clearer for some purposes
- To fulfill the basic need of human of being lighted
- To help human to see things clearly
- To give the certained and purposed effect

Requirements
- Esthetique : variety,position,ambience/mood,color
- Practical : fixtures,wattage,light level

Fixtures


Factors
- Human’s eyes (from brain to senses through cognition and perception processes)
- Objects
- Light resources
- Context

Types
- Ambient lighting : lighting that covers all surfaces smoothly, ex: at school’s class and offices

- Aesthetic lighting : lighting that gives priority to aesthetical reason, ex : arts and commercial lighting

- General lighting : all purpose lighting, to create safe and comfort environment. The main key of this type is to provide lighting to fulfill the need of clarity and to avoid the lighti-uncovered areas

- Task lighting : lighting that supports daily activities, ex : reading, cooking, make-up,shaving etc. It should be glare-free, efficient, deliver visual-clarity and keep away the eyes from the tensed and tired condition.

- Accent lighting : lighting that purposes to give spesific attraction effect to the watchers, or to give highlight to spesific objects, from the ordinary objects-art-architecture elements-interior and any other.

Elements
- Street lighting : streetscape former ex: street light and facade of a building.

- Accent lighting : for spesific needs like arts or important information.

- Shop window: to attract consumers to see the shop etalage.

- Urban furniture : urban element complementer, as a part of a building or street furniture, ex : bollard, garbage/litter box, seating, parks element etc

- Signage : to highlight the information about place or facility

Urban lighting definition

Is the science and art of lighting the public environment. The reason for lighting our urban environment has its origin in the fact that our eyes are not adapted to seeing in the darkness and therefore we need light in order to travel safely within our environment.

Lighting in urban context
Urban lighting is basically needed for giving the feeling of safety in the urban spaces for the spectators, specially at a nighttime. 3 main purposes of the urban lighting are :

1. Identity

- To give identity for specific area
- To help to create an image of the area
- To deliver the specific area to have a special character no other places have

2. Orientation

- To give orientation in order to get to aimed places
- To help wayfinding system in the area
- To form a specific pattern that can direct people to places, as a path.corridor or landmark/nodes

3. Information

- to give information needed by people about the place/facility, including the activities,the function, the location context etc.

I also find interesting precedents about urban lighting here :

http://www.designboom.com/weblog/keyword/urban-lighting.html

Well maybe that’s all for beginning, later i will explain more about urban lighting and collaboration work with other field for making something bigger that just an ordinary urban lighting. I do hope so…c u :)

 

selalu suka kotatua… March 31, 2010

Filed under: urban heritage — milasavitri @ 11:50 am

kotatua jakarta selalu memberikan sensasi tersendiri untuk dinikmati…mungkin karena saya memang selalu menyukai kawasan heritage, dimanapun mereka berada…sayangnya masih begitu banyak kawasan heritage di luar sana yang belum saya datangi,hehehe padahal katanya arsitek musti banyak jalan2 ya biar khasanahnya makin kaya dan sensitifitasnya makin tinggi dalam mendesain…dan kita kan tidak bisa lepas dari sejarah, karena untuk menghargai masa depan kita tidak bisa melupakan akar kita sebagai bahan untuk bercermin…*sok bijak mode on*…:D

paling tidak di negeri saya sendiri -yang kaya potensi berupa bangunan dan kawasan heritage, tapi sayangnya banyak yang tidak kurang terawat- ada beberapa kawasan yang sudah pernah saya nikmati…ok tapi untuk sementara saya sharing tentang kotatua jakarta saja dulu ya…sebenarnya ini udah diambil beberapa tahun yang lalu, walaupun ada beberapa yang baru…so enjooy :)


(bar area di salah satu lorong di kawasan fatahillah)


(dassad musin, the abandoned one)


(the terracota building @the corner)


(emptiness)


(the gate)


(museum wayang)


(old signage)


(cool signage in front of the abandoned building)


(tadao ando mode on @busway underpass)


(freezing)


(semarak onthel)


(one of fave train station)


(center of museum sejarah jakarta)


(video mapping @museum sejarah jakarta 13 maret 2010, event bersejarah dalam pemanfaatan ruang publik, kolaborasi seniman muda indonesia-UK…bisa dilihat video lengkapnya di http://vimeo.com/10289550 …kereeeen bangeeet!!!)


(nah ini salah tiga dari kreator utama video mapping diatas bersama ibu Aurora Tambunan dari pemprov DKI, taqarrabie-sakti parantean-adi panuntun..mereka udah memberi inspirasi dan perspektif baru dalam penambahan nilai pada ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk kreativitas…well done guys!! kami tunggu karya-karya berikutnya yang lebih membanggakan lagi..)

well, ini baru sedikit lho, masih banyak lagi potensi2 di kawasan kotatua ini yang bisa tertangkap kamera…mungkin lain kali saya bisa sharing lagi…juga mungkin tentang kawasan heritage lain di kota yang berbeda…sampai jumpa!

 

menuju bandung kota layak anak March 29, 2010

Filed under: child friendly city — milasavitri @ 12:35 pm

if we can build a succesful city for children, we will have a succesful city for all people

Enrique Penalosa – former mayor of Bogota, Colombia


waduh, petikan di atas bikin saya tambah semangat nih ngerjain paper tentang child friendly city (CFC) untuk seminar bulan juli nanti…

Walaupun banyak rintangannya, khususnya untuk kota Bandung, tapi bukan tidak mungkin beberapa tahun yang akan datang Bandung diakui dan masuk dalam kategori Kota Layak Anak, menyusul 10 kota lainnya di Indonesia…yaitu Aceh Besar (Nanggroe Aceh Darussalam), Kabupaten OKI (Sumatera Selatan), Kota Padang (Sumatera Barat), Lampung Selatan (Lampung), Kabupaten Karawang (Jawa Barat), Kabupaten Sragen (Jawa Tengah), Kota Malang (Jawa Timur), Kota Pontianak (Kalimantan Barat), Kota Manado (Sulawesi Utara), dan Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Sebenarnya KLA adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Sebagai warga kota, berarti anak:
a. keputusannya mempengaruhi kotanya;
b. dapat mengekspresikan pendapatnya mengenai kota yang mereka inginkan;
c. dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga, komuniti, dan sosial;
d. dapat mengakses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan;
e. dapat mengakses air minum segar dan tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang baik;
f. terlindungi dari eksploitasi, kekerasan dan penelantaran;
g. merasa aman berjalan di jalan;
h. dapat bertemu dan bermain dengan temannya;
i. hidup di lingkungan yang bebas polusi;
j. berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial; dan
k. secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan, tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender, dan kecacatan.

Memetik dari www.kotalayakanak.org, untuk mewujudkan KLA, bukanlah hal yang mudah dan bukanlah hal yang sulit. Akan tetapi, ada semacam suatu pra-syarat untuk mencapainya. Pra-syarat yang dimaksud adalah:
a. Adanya Kemauan dan komitmen pimpinan daerah: membangun dan memaksimalkan kepemimpinan daerah dalam mempercepat pemenuhan hak dan perlindungan anak yang dicerminkan dalam dokumen peraturan daerah.
b. Baseline data: tersedia sistem data dan data dasar yang digunakan untuk perencanaan, penyusunan program, pemantauan, dan evaluasi.
c. Sosialisasi hak anak: menjamin penyadaran hak-hak anak pada anak dan orang dewasa.
d. Produk hukum yang ramah anak: tersusunnya sedia peraturan perundangan mempromosikan dan melindungi hak-hak anak.
e. Partisipasi anak: tersedia wadah untuk mempromosikan kegiatan yang melibatkan anak dalam program-program yang akan mempengaruhi mereka; mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkannya dalam proses pembuatan keputusan.
f. Pemberdayaan keluarga: adanya program untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan perawatan anak.
g. Kemitraan dan jaringan: adanya kemitraan dan jaringan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.
h. Institusi Perlindungan Anak: Adanya kelembagaan yang mengkoordinasikan semua upaya pemenuhan hak anak.

So, mari kita optimis Bandung dengan segala kelebihan dan kekurangannya, suatu saat bisa menyusul kota lainnya dalam mengembang tugas sebagai Kota Layak Anak.

 

pedestrian oh pedestrian March 27, 2010

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 8:33 am

God made us walking animals — pedestrians. As a fish needs to swim, a bird to fly, a deer to run, we need to walk, not in order to survive, but to be happy.”

— Enrique Penalosa (mantan walikota Bogota, Colombia)

Setelah bertahun-tahun hidup di bandung, salah satu hal yang cukup banyak berubah adalah pedestrian, alias ruang untuk pejalan kaki. Well,masih ada lagi sih (banyak malah) hal-hal yang berubah dalam konteks urban/perkotaan. Gedung-gedung lama banyak yang berubah jadi bangunan baru, jalan-jalan semakin lebar tetapi semakin macet ( kapasitas jalan makin nggak bisa nampung padetnya kendaraan (pribadi) yang memenuhinya, taman-taman ada yang berubah jadi gedung atau fasilitas komersial,, banyak tumbuh perumahan baru yang semakin menghabiskan lahan hijau, billboard-iklan dan bando semakin memenuhi jalan-jalan utama yang dianggap potensial (untuk jualan), pedagang kaki lima yang semakin subur dan seolah2 ada dimana2….dimanapun, kapanpun dan apapun yang kita cari, dijamin ketemu deh…. de el el de el el lainnya…

Ok, kembali ke topik tentang pedestrian, definisi dari pedestrian itu sendiri adalah ruang untuk pejalan kaki yang berada di tepi jalan kendaraan. Tipologi pedestrian ada beberapa macam, dengan lebar yang bervariasi. Tetapi, secara manusiawi lebar pedestrian minimal 1,2 meter, dengan asumsi lebar satu orang adalah 0,6 meter. So pedestrian paling nggak bisa memuat 2 orang yang berpapasan tapi musti saling menabrak, atau salah satunya mlipir/minggir. Semakin lebar pedestrian akan semakin baik, karena bisa membuat pejalan kaki semakin nyaman dan aman.

Tipologinya, ada yang dibatasi oleh ruang hijau (yang diisi rumput/ semak/pohon), ada yang langsung berbatasan dengan jalan. Ruang hijau yang berada diantara jalan dan pedestrian sebenernya berfungsi sebagai buffer (pembatas), baik untuk polusi udara maupun suara dan unsure safety (paling nggak kalau ada mobil nyungsrep bakalan nabrak semak/pohon tersebut, instead of menabrak si pejalan kaki.

Kembali ke kota kita tercinta, bandung, semakin lama aku sih semakin miris dan prihatin melihat perkembangan pedestrian dari waktu ke waktu. Pedestrian dan pemakainya, sering menjadi pihak yang termarjinalkan. Well, kita, pejalan kaki, jadi sering dipaksa sekali untuk menjadi orang-orang super pemaaf…kenapa? Karena kita harus selalu mengalah, pada apapun. Pada kendaraan, baik mobil ataupun motor, dan jalur yang mengutamakan kendaraan sehingga kita harus naik-turun untuk menyesuaikan dengan jalur mereka, kepada para pedagang (mulai dari kaki lima yang seadanya sampai warung yang cukup serius), kepada tiang listrik yang salah posisi, pada kolom reklame dari yang kecil sampai yang segede gaban seperti bando yg melintang di tengah jalan, kepada tampat sampah dan pot-pot bunga yang seharusnya tidak disitu, kepada pohon2 liar yg tidak semestinya ada di situ, pada laybay parkir sesuatu yg seharusnya nggak disitu….dan kepada2 yang lain….Sigh, sampai kapan ya, kita harus mengalah sama makhluk2 lain yg tidak seharusnya memakai hak dan jatah kita untuk berjalan disitu?

Kalau melirik Jakarta, tetangga kita, sudah ada beberapa spot di lokasi2 penting dan strategis yg memiliki pedestrian yang terdesain dengan baik (hanya penggunaannya saja yang entah sudah sukses atau belum). Contohnya di kawasan sudirman, satrio, dan kawasan sekitar Benton junction di UPH tangerang dan kawasan perumahan Lippo Cikarang. Pedestriannya dirancang lebar, menggunakan pola-pola menarik dan bahan yang baik, dilengkapi dengan elemen-elemen street furniture yang cukup bervariasi, misalnya lighting, tempat sampah, bollard (penanda/pembatas), dan lain-lain. Vegetasi yang mengiringi keberadaaan pedestrian pun dirancang dengan memperhatikan kenyamanan pengguna pedestrian tersebut, yaitu dengan memilih jenis vegetasi peneduh yang bertajuk lebar sehingga pejalan kaki merasa nyaman berjalan disana.

Well, mungkin Bandung masih punya pedestrian yang ’agak’ nyaman, tetapi mungkin hanya segelintir dari beribu-ribu jalan yang ada. Contohnya di Jl. Setiabudi?, Jl. Sukajadi, Jl. Cipaganti, dan used to be Jl. Pasteur (sebelum pohon2 palem itu ditebang dengan mengenaskan dan berubah jadi tiang-tiang beton penyangga jembatan demi melancarkan arus ’pendatang’ yang terhormat melalui flyover pasupati yang semakin memenuhi Bandung di hari2 weekend tersebut…sorry, no offense for jakartarian ;D).

Padahal, kalau saja, kalau saja, pemda (dan warga kota Bandung juga tentunya) mau membenahi dan menjaga keberadaan pedestrian yang manusiawi dan nyaman bagi para pejalan kaki, tentunnya hal-hal dibawah ini perlahan-lahan bisa dicapai deh….walaupun mungkin bakal memakan waktu, tapi bukan tidak mungkin suatu hari akan menjadi kenyataan….fiuh….

- mobil pribadi makin berkurang, karena orang memilih memakai kendaraan umum/mass transport, disambung dengan berjalan kaki

- kemacetan berkurang karena orang lebih memilih berjalan kaki daripada buang2 bensin memakai mobil untuk mencapai ke jarak yang bahkan dekat (dan bermacet-macet ria)

- polusi udara berkurang karena pasokan O2 lancar dan penyerapan emisi buangan dari kendaraan bermotor akan dihirup oleh vegetasi yang berada di sepanjang jalan

- warga kota bisa semakin sehat karena semakin tidak malas bergerak untuk menuju dari satu titik ke titik yang lain

- streetscape (wajah jalan) kota semakin teratur dan rapih karena tepi jalan dibatasi oleh bidang yang terbuka tanpa gangguan secara visual dan fisikal berupa sektor-sektor informal yang tidak tertata

- streetscape semakin teduh dan nyaman karena pedestrian yang baik akan dilengkapi oleh vegetasi baik vegetasi peneduh maupun pengarah, beserta street furniturepelengkap.

- Area komersial yang dilalui oleh pedestrian yang ok akan semakin ramai dilewati oleh warga, yang ujung2nya bisa berimbas pada peningkatan penjualan dan keuntungan (bahkan PAD- pendapatan daerah)…

[gallery
( salah satu contoh pedestrian baik di salah satu spot di dago,Bandung – foto : courtesy of PSUD Bandung)


( pedestrian di muka commercial stripe yang nyaman di kawasan Benton Junction, depan kampus UPH Tangerang)


( pedestrian pada kawasan komersial yang sangat atraktif di Canton,China)

(pedestrian di Broadway, wide and clean)

( pedestrian di Camden Town, London, asik buat strolling alias cuci mata)

( pedestrian di kawasan budaya tarian tango, La Boca di Buenos Aires, Argentina, menjadi tempat sosialisasi dan ajang eksis bagi para warga yang mayoritasnya penari tango pelaku eksodus dari Italia)

( pedestrian crossing yang ramai tapi tetap tertib, hmmm pejalan kaki bener2 diservis dengan baik dan jadi ‘raja jalanan’)

( pedestrian yang baik seharusnya menghargai setiap jenis penggunanya,
even better to the difables)

Sooo, kalau udah gitu, siapa yang tidak kedapatan untungnya…? pemda bangga akan kotanya dan hasil kerja kerasnya, para pemain usaha meningkat keuntungannya, dan yang terpenting, warga mendapatkan kembali haknya untuk berjalan kaki dengan nyaman dan aman, serta mendapatkan perlakuan yang manusiawi di kotanya sendiri, bukan sebagai kaum yang termarjinalkan lagi…

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.