my dreams,story and dailychat

Just another WordPress.com weblog

selalu suka kotatua… March 31, 2010

Filed under: urban heritage — milasavitri @ 11:50 am

kotatua jakarta selalu memberikan sensasi tersendiri untuk dinikmati…mungkin karena saya memang selalu menyukai kawasan heritage, dimanapun mereka berada…sayangnya masih begitu banyak kawasan heritage di luar sana yang belum saya datangi,hehehe padahal katanya arsitek musti banyak jalan2 ya biar khasanahnya makin kaya dan sensitifitasnya makin tinggi dalam mendesain…dan kita kan tidak bisa lepas dari sejarah, karena untuk menghargai masa depan kita tidak bisa melupakan akar kita sebagai bahan untuk bercermin…*sok bijak mode on*…:D

paling tidak di negeri saya sendiri -yang kaya potensi berupa bangunan dan kawasan heritage, tapi sayangnya banyak yang tidak kurang terawat- ada beberapa kawasan yang sudah pernah saya nikmati…ok tapi untuk sementara saya sharing tentang kotatua jakarta saja dulu ya…sebenarnya ini udah diambil beberapa tahun yang lalu, walaupun ada beberapa yang baru…so enjooy :)


(bar area di salah satu lorong di kawasan fatahillah)


(dassad musin, the abandoned one)


(the terracota building @the corner)


(emptiness)


(the gate)


(museum wayang)


(old signage)


(cool signage in front of the abandoned building)


(tadao ando mode on @busway underpass)


(freezing)


(semarak onthel)


(one of fave train station)


(center of museum sejarah jakarta)


(video mapping @museum sejarah jakarta 13 maret 2010, event bersejarah dalam pemanfaatan ruang publik, kolaborasi seniman muda indonesia-UK…bisa dilihat video lengkapnya di http://vimeo.com/10289550 …kereeeen bangeeet!!!)


(nah ini salah tiga dari kreator utama video mapping diatas bersama ibu Aurora Tambunan dari pemprov DKI, taqarrabie-sakti parantean-adi panuntun..mereka udah memberi inspirasi dan perspektif baru dalam penambahan nilai pada ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk kreativitas…well done guys!! kami tunggu karya-karya berikutnya yang lebih membanggakan lagi..)

well, ini baru sedikit lho, masih banyak lagi potensi2 di kawasan kotatua ini yang bisa tertangkap kamera…mungkin lain kali saya bisa sharing lagi…juga mungkin tentang kawasan heritage lain di kota yang berbeda…sampai jumpa!

 

menuju bandung kota layak anak March 29, 2010

Filed under: child friendly city — milasavitri @ 12:35 pm

if we can build a succesful city for children, we will have a succesful city for all people

Enrique Penalosa – former mayor of Bogota, Colombia


waduh, petikan di atas bikin saya tambah semangat nih ngerjain paper tentang child friendly city (CFC) untuk seminar bulan juli nanti…

Walaupun banyak rintangannya, khususnya untuk kota Bandung, tapi bukan tidak mungkin beberapa tahun yang akan datang Bandung diakui dan masuk dalam kategori Kota Layak Anak, menyusul 10 kota lainnya di Indonesia…yaitu Aceh Besar (Nanggroe Aceh Darussalam), Kabupaten OKI (Sumatera Selatan), Kota Padang (Sumatera Barat), Lampung Selatan (Lampung), Kabupaten Karawang (Jawa Barat), Kabupaten Sragen (Jawa Tengah), Kota Malang (Jawa Timur), Kota Pontianak (Kalimantan Barat), Kota Manado (Sulawesi Utara), dan Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Sebenarnya KLA adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Sebagai warga kota, berarti anak:
a. keputusannya mempengaruhi kotanya;
b. dapat mengekspresikan pendapatnya mengenai kota yang mereka inginkan;
c. dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga, komuniti, dan sosial;
d. dapat mengakses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan;
e. dapat mengakses air minum segar dan tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang baik;
f. terlindungi dari eksploitasi, kekerasan dan penelantaran;
g. merasa aman berjalan di jalan;
h. dapat bertemu dan bermain dengan temannya;
i. hidup di lingkungan yang bebas polusi;
j. berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial; dan
k. secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan, tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender, dan kecacatan.

Memetik dari http://www.kotalayakanak.org, untuk mewujudkan KLA, bukanlah hal yang mudah dan bukanlah hal yang sulit. Akan tetapi, ada semacam suatu pra-syarat untuk mencapainya. Pra-syarat yang dimaksud adalah:
a. Adanya Kemauan dan komitmen pimpinan daerah: membangun dan memaksimalkan kepemimpinan daerah dalam mempercepat pemenuhan hak dan perlindungan anak yang dicerminkan dalam dokumen peraturan daerah.
b. Baseline data: tersedia sistem data dan data dasar yang digunakan untuk perencanaan, penyusunan program, pemantauan, dan evaluasi.
c. Sosialisasi hak anak: menjamin penyadaran hak-hak anak pada anak dan orang dewasa.
d. Produk hukum yang ramah anak: tersusunnya sedia peraturan perundangan mempromosikan dan melindungi hak-hak anak.
e. Partisipasi anak: tersedia wadah untuk mempromosikan kegiatan yang melibatkan anak dalam program-program yang akan mempengaruhi mereka; mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkannya dalam proses pembuatan keputusan.
f. Pemberdayaan keluarga: adanya program untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan perawatan anak.
g. Kemitraan dan jaringan: adanya kemitraan dan jaringan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.
h. Institusi Perlindungan Anak: Adanya kelembagaan yang mengkoordinasikan semua upaya pemenuhan hak anak.

So, mari kita optimis Bandung dengan segala kelebihan dan kekurangannya, suatu saat bisa menyusul kota lainnya dalam mengembang tugas sebagai Kota Layak Anak.

 

pedestrian oh pedestrian March 27, 2010

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 8:33 am

God made us walking animals — pedestrians. As a fish needs to swim, a bird to fly, a deer to run, we need to walk, not in order to survive, but to be happy.”

— Enrique Penalosa (mantan walikota Bogota, Colombia)

Setelah bertahun-tahun hidup di bandung, salah satu hal yang cukup banyak berubah adalah pedestrian, alias ruang untuk pejalan kaki. Well,masih ada lagi sih (banyak malah) hal-hal yang berubah dalam konteks urban/perkotaan. Gedung-gedung lama banyak yang berubah jadi bangunan baru, jalan-jalan semakin lebar tetapi semakin macet ( kapasitas jalan makin nggak bisa nampung padetnya kendaraan (pribadi) yang memenuhinya, taman-taman ada yang berubah jadi gedung atau fasilitas komersial,, banyak tumbuh perumahan baru yang semakin menghabiskan lahan hijau, billboard-iklan dan bando semakin memenuhi jalan-jalan utama yang dianggap potensial (untuk jualan), pedagang kaki lima yang semakin subur dan seolah2 ada dimana2….dimanapun, kapanpun dan apapun yang kita cari, dijamin ketemu deh…. de el el de el el lainnya…

Ok, kembali ke topik tentang pedestrian, definisi dari pedestrian itu sendiri adalah ruang untuk pejalan kaki yang berada di tepi jalan kendaraan. Tipologi pedestrian ada beberapa macam, dengan lebar yang bervariasi. Tetapi, secara manusiawi lebar pedestrian minimal 1,2 meter, dengan asumsi lebar satu orang adalah 0,6 meter. So pedestrian paling nggak bisa memuat 2 orang yang berpapasan tapi musti saling menabrak, atau salah satunya mlipir/minggir. Semakin lebar pedestrian akan semakin baik, karena bisa membuat pejalan kaki semakin nyaman dan aman.

Tipologinya, ada yang dibatasi oleh ruang hijau (yang diisi rumput/ semak/pohon), ada yang langsung berbatasan dengan jalan. Ruang hijau yang berada diantara jalan dan pedestrian sebenernya berfungsi sebagai buffer (pembatas), baik untuk polusi udara maupun suara dan unsure safety (paling nggak kalau ada mobil nyungsrep bakalan nabrak semak/pohon tersebut, instead of menabrak si pejalan kaki.

Kembali ke kota kita tercinta, bandung, semakin lama aku sih semakin miris dan prihatin melihat perkembangan pedestrian dari waktu ke waktu. Pedestrian dan pemakainya, sering menjadi pihak yang termarjinalkan. Well, kita, pejalan kaki, jadi sering dipaksa sekali untuk menjadi orang-orang super pemaaf…kenapa? Karena kita harus selalu mengalah, pada apapun. Pada kendaraan, baik mobil ataupun motor, dan jalur yang mengutamakan kendaraan sehingga kita harus naik-turun untuk menyesuaikan dengan jalur mereka, kepada para pedagang (mulai dari kaki lima yang seadanya sampai warung yang cukup serius), kepada tiang listrik yang salah posisi, pada kolom reklame dari yang kecil sampai yang segede gaban seperti bando yg melintang di tengah jalan, kepada tampat sampah dan pot-pot bunga yang seharusnya tidak disitu, kepada pohon2 liar yg tidak semestinya ada di situ, pada laybay parkir sesuatu yg seharusnya nggak disitu….dan kepada2 yang lain….Sigh, sampai kapan ya, kita harus mengalah sama makhluk2 lain yg tidak seharusnya memakai hak dan jatah kita untuk berjalan disitu?

Kalau melirik Jakarta, tetangga kita, sudah ada beberapa spot di lokasi2 penting dan strategis yg memiliki pedestrian yang terdesain dengan baik (hanya penggunaannya saja yang entah sudah sukses atau belum). Contohnya di kawasan sudirman, satrio, dan kawasan sekitar Benton junction di UPH tangerang dan kawasan perumahan Lippo Cikarang. Pedestriannya dirancang lebar, menggunakan pola-pola menarik dan bahan yang baik, dilengkapi dengan elemen-elemen street furniture yang cukup bervariasi, misalnya lighting, tempat sampah, bollard (penanda/pembatas), dan lain-lain. Vegetasi yang mengiringi keberadaaan pedestrian pun dirancang dengan memperhatikan kenyamanan pengguna pedestrian tersebut, yaitu dengan memilih jenis vegetasi peneduh yang bertajuk lebar sehingga pejalan kaki merasa nyaman berjalan disana.

Well, mungkin Bandung masih punya pedestrian yang ’agak’ nyaman, tetapi mungkin hanya segelintir dari beribu-ribu jalan yang ada. Contohnya di Jl. Setiabudi?, Jl. Sukajadi, Jl. Cipaganti, dan used to be Jl. Pasteur (sebelum pohon2 palem itu ditebang dengan mengenaskan dan berubah jadi tiang-tiang beton penyangga jembatan demi melancarkan arus ’pendatang’ yang terhormat melalui flyover pasupati yang semakin memenuhi Bandung di hari2 weekend tersebut…sorry, no offense for jakartarian ;D).

Padahal, kalau saja, kalau saja, pemda (dan warga kota Bandung juga tentunya) mau membenahi dan menjaga keberadaan pedestrian yang manusiawi dan nyaman bagi para pejalan kaki, tentunnya hal-hal dibawah ini perlahan-lahan bisa dicapai deh….walaupun mungkin bakal memakan waktu, tapi bukan tidak mungkin suatu hari akan menjadi kenyataan….fiuh….

- mobil pribadi makin berkurang, karena orang memilih memakai kendaraan umum/mass transport, disambung dengan berjalan kaki

- kemacetan berkurang karena orang lebih memilih berjalan kaki daripada buang2 bensin memakai mobil untuk mencapai ke jarak yang bahkan dekat (dan bermacet-macet ria)

- polusi udara berkurang karena pasokan O2 lancar dan penyerapan emisi buangan dari kendaraan bermotor akan dihirup oleh vegetasi yang berada di sepanjang jalan

- warga kota bisa semakin sehat karena semakin tidak malas bergerak untuk menuju dari satu titik ke titik yang lain

- streetscape (wajah jalan) kota semakin teratur dan rapih karena tepi jalan dibatasi oleh bidang yang terbuka tanpa gangguan secara visual dan fisikal berupa sektor-sektor informal yang tidak tertata

- streetscape semakin teduh dan nyaman karena pedestrian yang baik akan dilengkapi oleh vegetasi baik vegetasi peneduh maupun pengarah, beserta street furniturepelengkap.

- Area komersial yang dilalui oleh pedestrian yang ok akan semakin ramai dilewati oleh warga, yang ujung2nya bisa berimbas pada peningkatan penjualan dan keuntungan (bahkan PAD- pendapatan daerah)…

[gallery
( salah satu contoh pedestrian baik di salah satu spot di dago,Bandung – foto : courtesy of PSUD Bandung)


( pedestrian di muka commercial stripe yang nyaman di kawasan Benton Junction, depan kampus UPH Tangerang)


( pedestrian pada kawasan komersial yang sangat atraktif di Canton,China)

(pedestrian di Broadway, wide and clean)

( pedestrian di Camden Town, London, asik buat strolling alias cuci mata)

( pedestrian di kawasan budaya tarian tango, La Boca di Buenos Aires, Argentina, menjadi tempat sosialisasi dan ajang eksis bagi para warga yang mayoritasnya penari tango pelaku eksodus dari Italia)

( pedestrian crossing yang ramai tapi tetap tertib, hmmm pejalan kaki bener2 diservis dengan baik dan jadi ‘raja jalanan’)

( pedestrian yang baik seharusnya menghargai setiap jenis penggunanya,
even better to the difables)

Sooo, kalau udah gitu, siapa yang tidak kedapatan untungnya…? pemda bangga akan kotanya dan hasil kerja kerasnya, para pemain usaha meningkat keuntungannya, dan yang terpenting, warga mendapatkan kembali haknya untuk berjalan kaki dengan nyaman dan aman, serta mendapatkan perlakuan yang manusiawi di kotanya sendiri, bukan sebagai kaum yang termarjinalkan lagi…

 

child friendly cities – abstract – part 1 March 25, 2010

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 8:14 am

Children oftenly become the discriminated ones, in fullfiling their needs and rights for some aspect such as health, education, social, civil and participation rights, law protection, labor-act and trafficking protection and also infrastructures, just because they are still underage and considered as an unindependent person.. In fact, the children, just as a grownup person, can be cooperated and overcome problems correlating with the urban environment (Adams and Ingham, 1998 : 51). A child, as a citizen, also have the same rights with the adults in conceiving their rights fulfilled, whether it’s a primary, secondary or tertiary rights.

This study is about moving towards to fulfill the children rights of facilities and infrastructure of the urban environment, according to the National Law No 23/2002 section 22 : “State and government are compelled and responsible to give support a facility and infrastructure in order to children protection implementation”. Children-friendly city concepts are about establishing the administration zone that integrate the commitment and government rescources, society/community and partnership in the framework of fulfilling children rights comprehensively and sustainably through making the children right as a main current. Children interest that could be contained in the urban environment are freedom to propound their opinion and ideas as a personal or represented by other party, freedom to contribute in society and family living environment, basic health and educational treatment, qualified city facilities and infrastructure appropriate to the society characteristic without any discrimination upon them.

How about Bandung? Bandung, known nowadays as a creative city, could give a good base to provide the need for a good facilites and infrastructure of children-friendly urban spatial. But surely there are many obstacles and complication within, whether it’s an environmentally, physically, partnership-government and community resource problems and commitment to reach the proper and feasible children-friendly urban environment.

 

Dago…bagian 1 March 24, 2010

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 11:15 am

Cuma ingin berbagi…sebenarnya ini postingan lama di blog saya yang lain…tapi nggak ada salahnya di re-post, dengan sedikit touch up di beberapa spot :)

Well, siapa sih yang nggak kenal Dago, jalan ini dari jaman akhir 1800-an udah jadi jalur utama, walaupun mulanya hanya dilewati para inlandeers pengangkut hasil kebun dari daerah atas, dimana disitu mulai dikenal istilah ‘ngadagoan’ yg artinya tempat nunggu, karena mereka memang musti saling menunggu untuk lewat jalan ini bareng2 supaya nggak dirampok. Tahun 1900 awal, Bandung semakin dipenuhi oleh para preangerplaanters alias londo2 pemilik perkebunan, salah satunya adalah sang juragan Andreas de Wilde yang puny a gudang kopi di lokasi yang sekarang jadi Balaikota di Jl.Wastukencana itu. Nah, dialah salah satu pionir yang membangun rumah di jl. Dago atas, yg konon sampai sekarang rumah itu masih berdiri, di sebelah hotel Jayakarta. Mulai saat itu, semakin banyaklah dibangun rumah2 bertipe villa, yaitu tipe bangunan tunggal yang punya sempadan samping yang cukup lebar, tentunya juga sempadan muka yang juga luas.

Sampai berpuluh tahun kemudian, kawasan Dago masih dikenal sebagai kawasan hunian yang elit dan berkelas, dengan karakter yang sangat khas yang dibentuk oleh elemen-elemen seperti bulevar (median di tengah jalan), berm (area hijau diantara jalan dan kapling) yang diisi oleh vegetasi pengarah berupa pohon tinggi yang rindang spt Damar yang membentuk Dago menjadi koridor yang rindang, pedestrian (jalur pejalan kaki), GSB atau garis sempadan bangunan yang lebar, serta mostly bangunan satu level dengan atap miring curam sebagai responnya terhadap iklim tropis, walaupun ada beberapa bangunan dengan langgam yang berbeda, seperti 3 villas , which is one of them has changed into an FO =_( Dago semakin eksis ketika awal 1920-an Bandung jadi gementee (kotamadya) dan mengalami pembangunan di sana sini, spt kawasan pemerintahan di sekitar Gd.Sate dan kawasan pendidikan, istitut tuaaa banget, di Jl. Ganesha…dll, sehingga Dago jadi pembatas antara dua kawasan itu…

Dago 1920 (sumber:Bandung Tempo Doeloe)

Seiring dengan pesatnya pembangunan, plus secara nggak langsung kena imbas dari dibangunnya tol Cipularang dan jalan layang Pasupati, karakter itu perlahan (gak juga, cukup cepat kok) semakin menghilang, terutama pada segmen Dago bawah, mendekati Jl Merdeka. Bangunan tipe villa sedikit demi sedikit berganti jadi bangunan dengan tipe entahlah, dengan karakter bulky dan menjulang yang merusak streetscape, demi mengejar ‘wadah’ yang dirasa lebih ‘pantas’ untuk menampung peruntukan dan fungsi baru. Pergeseran fungsi memang mulai terasa sejak jaman krismon, dimana mulai bertumbuhan kafe-kafe tenda sebagai respon dari kesulitan ekonomi (cikal bakal komunitas kreatif kali ya…). Tapi beberapa tahun belakangan, tepatnya tahun 2000an, demam FO melanda Dago (dan kawasan lain seperti Jl Riau)  dan ‘menyerang’ dengan cukup bombastis. Wajah bangunan pun tak ragu ditutupi ‘kulit baru’ berupa second skin, bahkan pada beberapa bangunan dilakukan  operasi penggantian wajah dan tubuh sekaligus, yang benar2 menghilangkan karakter bangunan aslinya…contoh ekstrimnya mungkin si bangunan ‘lingerie’ yang super transparan dengan tirai menjuntai penuh (jadi repot sendiri karena musti menutup diri dari silaunya sinar matahari sore?)

Bangunan ‘lingerie’ (courtesy of PSUD-Bdg)

Sebenarnya hal ini tak lepas dari ‘peranan’ peraturan, baik itu RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) maupun RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kota), yang telah menetapkan bahwa koridor Dago menjadi kawasan dengan peruntukan jasa. Well, yang namanya jasa itu sebenarnya ya menyediakan jasa (bukan barang), seperti kantor (jasa pelayanan), dokter/notaris (jasa profesi), hotel (jasa pariwisata) dsb. Tapi ini malah dipenuhi juga oleh komersil/perdagangan, dimana dalam peraturan memang tidak disebutkan secara jelas perbedaan antara keduanya. Tidak seperti di Jakarta yang jelas2 membedakan antara jasa dan perdagangan (komersil). Dalam suatu penelitian juga disebutkan bahwa pemda menetapkan Dago sebagai floating zone alias area yang kasarnya ‘masih bisa diapa-apain”, jadi masih tersisa ruang yang longgar dimana stakeholders dan pemda masih bisa ‘bermain’ tanpa kena sanksi pelanggaran thd peraturan…(well ini sih udah pake su’udzon hehe). Ok CMIIW ya….Masalah2 di Dago ‘cukup’ banyak, antara lain:

-          Signage yang bersifat privat(baca: reklame komersil) spt bando dan bilboard yang makin lama makin ‘menuh-menuhin bungkusnya’, tersebar di manapun mereka mau berdiri, dengan ukuran terserah, layout terserah dan menutupi terserah apapun yang mau mereka tutupi (spt vegetasi, elemen bangunan, ataupun tata informasi lain..)

(courtesy of PSUD-Bdg)

-          Terakuisisinya lahan publik oleh kepentingan privat, spt penggunaan berm untuk tempat parkir (terutama pada fungsi komersil) dan tempat PKL (which is sangat menjamur sejak krismon sampai sekarang, bahkan semakin tidak terkendali…)

-          Kemacetan yang terjadi tidak hanya di hari libur/weekend, karena bangkitan yang timbul semakin tidak terkendali (krn makin banyak FO) dan parkir semakin tidak tertampung di dalam kavling hingga meluber on street…

(sumber : Artepolis, 2006)

-          Pedestrian atau jalur pejalan kaki yang bolong2, naik turun karena musti mengalah sama jalur mobil yang ke arah kavling (bikin pegel yang jalan dan walhasil orang jadi males strolling dan memilih untuk naik kendaraan which is makin bikin macet)

-          Adanya SPBU baru, padahal jelas2 jasa kendaraan bermotor (spt bengkel, showroom dan SPBU) tidak diperbolehkan, bahkan SPBU di cikapayang bbrp taun lalu dibongkar dan udah jadi RTH…gak konsisten sih? mbingungin!

Tetapiii…Dago juga punya potensi yang besarrr…selain aspek fisik spt bangunan konservasi bertipe villa,ruang terbuka hijau dan karakter lingkungan yang khas…yaitu aspek non fisiknya, spt aktivitas pendukung yang saat ini semakin menjadi identitas kawasan Dago juga..Dago sudah menjadi ajang untuk menunjukkan eksistensi komunitas tertentu spt klub2 otomotif di hari-hari tertentu, dimana hal ini menjadi atraksi yang menarik juga bagi pendatang…selain itu kawasan sekitar Dago juga dikelilingi oleh komunitas kreatif berupa distro2 dengan berbagai aliran (CMIIW again…) Tahun 2001-2004 sempat brlangsung Dago Festival yang sangat festive, tapi sayangnya dilarang oleh pemkot krn dianggap menyebabkan kemacetan dan kekacauan…bgitu juga dengan OB-Van radio2 anak muda yang nongkrong di titik tertentu di malam minggu, dilarang juga…

(sumber : flickr)

Ok, memang rumit dan dibutuhkan komitmen tinggi serta kerjasama dari berbagai pihak/stakeholder yang punya “niat” dan kesadaran yang sama untuk membenahi Dago…tapi bukannya nggak mungkin kok menata Dago untuk jadi kawasan conservation-festive- hip-pedestrian oriented-shopping street- yang nyaman, hijau dan sustainable (berkelanjutan)…setuju?? (*semi optimis tapi berharap fully optimis* mode on)

 

most livable city…what about ours?

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 8:57 am

Barusan dapet nih, per februari 2010 dari http://www.huffingtonpost.com/2010/02/13/worlds-most-livable-citie_n_460497.html?slidenumber=lfkg10AFGFM%3D&&&slideshow#slide_image …menurut Economist Intelligent Survey (EIU) yang berpusat di London, 10 kota yang masuk di list most livable cities adalah sebagai berikut :

1. Vancouver

2. Vienna

3. Melbourne

4. Toronto

5. Calgary

6. Helsinki

7. Sidney

8. Perth

9. Adelaide

10. Auckland

ok, berhubung sang juri2 di organisasi ini  sangat european minded, jadi yang masuk di top ten liveable cities pun penuh dengan kota2 dari 2 negara yang mendominasi, yaitu Canada dan Australia. Dan, bersama dengan itu pun keluar list top ten worst cities, yaitu :

1. Dakar (Senegal)

2. Colombo (Sri Lanka)

3. Kathmandu (Nepal)

4. Douala (Kamerun)

5. Karachi (Pakistan)

6. Lagos (Nigeria)

7. Port Moresby (Papua Nugini)

8. ALgeria (Algiers)

9. Dhaka (Bangladesh)

10. Harare (Zimbabwe)

which is kebetulan dari negara2 berkembang (heran ya ternyata gak ada kota dari indonesia, syukurlaaah….)

ok, saya sedang mencari indikator apa yang menyebabkan kota2 itu masuk dalam top ten list tersebut….yang jelas sih, timbul pertanyaan dalam diri saya…gimana dengan Bandung? sudahkan ia menjadi, atau bahkan mendekati gelar liveable city? di umurnya yang ke 200 di tahun ini, kondisi bandung ada yang membuat saya cukup sediiih…terutama dari segi fisik dan infrastrukturnya…tapi ada juga kondisinya yg membuat saya bangga…terutama dari aspek kreatifitas…kota bandung punya segudang potensi, baik sdm/komunitas kreatif, nomenklatur industri kreatif maupun spot-spot menarik yang bisa didayagunakan sebagai ruang kreatif, so bandung bisa semakin eksis sebagai kota kreatif…akan lebih komplit lagi jika dua-duanya dapat dicapai…ya kota yang liveable (suer saya masih bingung apa terjemahan yang tepat untuk kata liveable hehe…nyaman?layak untuk ditinggali mungkin ya?) ya kota kreatif juga…semoga…mari kita optimis!!!

 

mari menulis tentang kota!

Filed under: interesting issue — milasavitri @ 3:46 am
Tags: ,

hi, senang bertemu disini!

blog ini khusus didedikasikan dari, oleh dan untuk kita para urbanis….urbanis bukan berarti kita harus jadi ahli tentang urban desain atau perkotaan lho, tapi kita2 semua yang hidup di kota, para penikmat-pekerja-pelaku-pengguna-penilai-pemberi masukan-dan pe-pe yang lain yang berkaitan dengan kota tempat kita tinggal…(asal bukan perusak-pengganggu-pembuat huru hara yaaa :P)…

jadi, saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan,pikirkan,dengarkan,nikmati,resahkan dan sebagainya selama saya hidup, di kota bandung khususnya…tapi ini nggak menutup kemungkinan jika saya berbagi juga tentang pengalaman dari kota2 lain yang bisa kita pelajari dan ambil hikmah/manfaatnya…

kritik,saran dan masukan akan sangat berharga bagi saya, apapun isi dan bentuknya…yang penting keluar dari hati terdalam para penikmat blog ini…

ok, sampai jumpa di tulisan2 berikutnya…semoga bisa bermanfaat bagi kita semua, amin :)

nov09

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.